Mikrodermabrasi Aku pertama kali tertarik dengan mikrodermabrasi bukan karena iklan klinik yang muluk-muluk.
Jujur aja, waktu itu kulit lagi kusam parah, pori-pori kelihatan, dan makeup kayak nggak nempel.
Rasanya udah rajin cuci muka, tapi kok hasilnya gitu-gitu aja.
Ada satu momen ngaca pagi hari, dan aku mikir, “Ini kulit kenapa kayak nggak pernah istirahat.”
Dari situlah aku mulai baca-baca soal mikrodermabrasi, awalnya cuma iseng.
Ternyata makin dibaca, makin masuk akal.
Mikrodermabrasi itu intinya pengelupasan kulit mati wikipedia dengan alat khusus.
Bukan pakai bahan kimia keras, tapi pakai kristal halus atau diamond tip.
Kedengarannya simpel, tapi efeknya katanya bisa lumayan kerasa.
Apa Itu Mikrodermabrasi, Versi Orang Awam Tapi Jujur
Page Contents
- 0.1 Apa Itu Mikrodermabrasi, Versi Orang Awam Tapi Jujur
- 0.2 Pengalaman Pertama Mikrodermabrasi, Deg-degan Tapi Penasaran
- 0.3 Setelah Selesai, Ini yang Aku Rasain
- 0.4 Manfaat Mikrodermabrasi yang Aku Rasain Sendiri
- 0.5 Efek Samping Mikrodermabrasi, Jangan Cuma Denger Enaknya
- 0.6 Pelajaran Penting: Mikrodermabrasi Bukan Untuk Semua Orang
- 0.7 Perbedaan Mikrodermabrasi dan Facial Biasa
- 0.8 Tips Aman Sebelum dan Sesudah Mikrodermabrasi
- 0.9 Apakah Micropeel Layak Dicoba? Versi Jujur
- 0.10 Penutup: Micropeel Itu Alat, Bukan Jalan Pintas
- 1 Author
Kalau dijelasin pakai bahasa klinik, mikrodermabrasi itu prosedur eksfoliasi mekanik.
Tapi versi aku, ini tuh kayak “diampelas halus” tapi aman.
Kulit mati yang numpuk ditarik keluar pelan-pelan.
Yang bikin aku agak tenang, mikrodermabrasi termasuk non-invasif.
Nggak ada jarum, nggak ada sayatan, nggak ada drama berdarah.
Dan biasanya bisa langsung aktivitas lagi setelahnya.
Ada dua tipe mikrodermabrasi yang sering disebut.
Yang pakai kristal aluminium oksida, dan yang pakai diamond tip.
Aku pilih diamond tip karena katanya lebih terkontrol.
Waktu denger kata “diamond”, aku sempat mikir mahal.
Ternyata nggak selalu, tergantung klinik dan paketnya.
Dan yes, aku bandingin harga dulu sebelum mutusin.
Pengalaman Pertama Mikrodermabrasi, Deg-degan Tapi Penasaran
Masuk ruang treatment, aku sok santai padahal dalam hati was-was.
Takut perih, takut merah parah, takut breakout.
Namanya juga kulit pernah trauma sama eksperimen skincare.
Terapisnya jelasin prosedurnya pelan-pelan.
Alatnya ditempel ke kulit, ada sensasi kayak disedot dikit.
Nggak sakit, tapi jelas kerasa.

Bagian hidung dan dagu agak lebih “nyegrak”.
Mungkin karena area itu pori-porinya bandel.
Aku sempat meringis, tapi masih bisa ditahan.
Selama proses, aku malah kepikiran hal random.
Kayak, “Oh jadi selama ini kulit mati numpuk sebanyak ini.”
Agak jijik tapi juga lega.
Setelah Selesai, Ini yang Aku Rasain
Begitu selesai, kulit langsung kerasa beda.
Bukan putih instan, tapi lebih halus dan licin.
Kayak habis dicuci bersih banget.
Wajah agak merah, tapi bukan yang bikin panik.
Mirip abis kena panas matahari sebentar.
Sekitar satu jam juga mulai kalem.
Yang bikin aku kaget, skincare malam itu nyerepnya cepet.
Biasanya serum suka ngambang di permukaan.
Ini langsung “masuk”, entah sugesti atau emang efeknya.
Besok paginya, pas cuci muka, sensasinya masih sama.
Halus, bersih, dan pori-pori kelihatan lebih rapih.
Bukan hilang, tapi lebih jinak.
Manfaat Mikrodermabrasi yang Aku Rasain Sendiri
Aku nggak mau lebay bilang ini treatment ajaib.
Tapi ada beberapa manfaat mikrodermabrasi yang nyata buat aku.
Pertama, kulit jadi lebih cerah alami.
Bukan putih keabu-abuan, tapi cerah sehat.
Kayak warna kulit aslinya muncul lagi.
Kedua, tekstur kulit lebih rata.
Bruntusan kecil di dahi berkurang.
Nggak langsung hilang, tapi jelas membaik.
Ketiga, makeup jadi lebih nempel.
Foundation nggak cracking parah.
Dan bedak nggak gampang geser.
Keempat, skincare jadi lebih efektif.
Ini penting, apalagi kalau pakai produk aktif.
Tapi ya harus hati-hati juga.
Efek Samping Mikrodermabrasi, Jangan Cuma Denger Enaknya
Nah, ini bagian yang sering dilewatin orang.
Mikrodermabrasi tetap punya risiko, sekecil apa pun.
Dan aku ngalamin salah satunya.
Hari kedua, muncul jerawat kecil di dagu.
Nggak banyak, tapi bikin aku mikir.
Setelah konsultasi, katanya itu reaksi normal.
Kulit lagi adaptasi setelah eksfoliasi.
Lapisan pelindung sementara berkurang.
Kalau salah perawatan, ya bisa rewel.
Makanya, setelah mikrodermabrasi, aku stop dulu skincare aktif.
Nggak ada retinol, nggak ada exfoliating toner.
Fokus hidrasi dan sunscreen.
Pelajaran Penting: Mikrodermabrasi Bukan Untuk Semua Orang
Ini jujur aja, aku baru sadar setelah ngobrol panjang sama terapis.
Mikrodermabrasi nggak cocok untuk semua kondisi kulit.
Dan ini sering disepelekan.
Kalau kulit lagi jerawatan parah, meradang, atau luka terbuka, sebaiknya tunda.
Kalau punya rosacea aktif, juga harus ekstra hati-hati.
Karena gesekan bisa memperparah kondisi.
Aku juga belajar, frekuensi itu penting.
Bukan makin sering makin bagus.
Justru bisa bikin skin barrier rusak.
Idealnya 3–4 minggu sekali.
Dan itu pun tergantung respon kulit.
Kulit kita bukan mesin.
Perbedaan Mikrodermabrasi dan Facial Biasa
Dulu aku mikir, “Ini mah facial doang, mahalan dikit.”
Ternyata beda.
Dan bedanya kerasa.
Facial fokus ke pembersihan dan relaksasi.
Pijat, uap, ekstraksi komedo.
Mikrodermabrasi fokus ke pengelupasan kulit mati.
Sensasinya juga beda.
Facial bikin ngantuk, mikrodermabrasi bikin melek.
Karena ada rasa “digarap”.
Hasilnya pun beda.
Facial bikin segar, mikrodermabrasi bikin kulit lebih siap.
Siap nerima skincare dan treatment lain.
Tips Aman Sebelum dan Sesudah Mikrodermabrasi
Ini bagian yang menurutku paling penting.
Karena hasil bagus itu bukan cuma dari treatmentnya.
Tapi dari perawatan setelahnya.
Sebelum mikrodermabrasi, aku stop exfoliating minimal 3 hari.
Nggak pakai scrub, nggak pakai acid.
Biar kulit nggak kaget.
Setelah treatment, sunscreen itu wajib.
Bahkan kalau cuma di rumah.
Kulit lagi sensitif, jangan sok kebal.
Pakai pelembap yang beneran fokus hidrasi.
Hindari produk wangi-wangian dulu.
Dan minum air lebih banyak, ini sering dilupain.
Apakah Micropeel Layak Dicoba? Versi Jujur
Kalau ditanya layak atau nggak, jawabanku: tergantung.
Tergantung kondisi kulit, ekspektasi, dan konsistensi.
Ini bukan sulap.

Buat aku, Micropeel jadi semacam reset ringan.
Bukan solusi semua masalah.
Tapi membantu banget sebagai perawatan rutin.
Aku juga belajar lebih kenal kulit sendiri.
Kapan perlu eksfoliasi, kapan harus berhenti.
Dan itu pelajaran mahal yang nggak selalu datang dari produk mahal.
Penutup: Micropeel Itu Alat, Bukan Jalan Pintas
Kalau ada satu hal yang aku petik dari pengalaman Micropeel ini,
kulit sehat itu hasil kebiasaan, bukan satu treatment.
Micropeel cuma salah satu alat.
Jangan kejar instan.
Jangan bandingin hasil kulit sendiri sama orang lain.
Dan jangan males pakai sunscreen, serius.
Kalau kamu lagi mikir buat coba Micropeel,
pelan-pelan aja, dengerin kulit kamu.
Kadang kulit lebih jujur dari review internet.
Dan ya, kadang kita baru sadar pentingnya kulit sehat
setelah ngerasa kulit kita “capek”.
Aku pernah di situ, dan Micropeel jadi salah satu titik balik kecil yang cukup berarti.
Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: Beauty
Baca Juga Artikel Ini: Akibat Dagu Belah: Mengenal Dampaknya dan Cara Menghadapinya
